Dilusi saham terjadi saat perusahaan mengambil aksi yang menyebabkan peningkatan jumlah saham yang beredar sehingga mengurangi prosentase kepemilikan perusahaan yang sebelumnya dimiliki para pemegang saham lama.

Meskipun aksi yang menyebabkan dilusi saham merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan oleh perusahaan terutama yang sedang membutuhkan dana segar, prosesnya membawa implikasi negatif karena satu alasan: para pemegang saham adalah pemilik perusahaan, sehingga apapun yang mengurangi tingkat kepemilikan mereka atas perusahaan berarti juga mengurangi kekuasaan mereka.

Dilusi dapat dilakukan dengan beberapa cara, sementara pengumuman atas diambilnya aksi perusahaan itu biasanya dilakukan dalam rapat para pemegang saham atau dituangkan dalam prospektus baru.

Saat itu terjadi dan jumlah saham peruaahaan bertambah, saham baru disebut sebagai “saham dilutif”.

Penawaran Sekunder

Jika sebuah perusahaan memiliki 1000 lembar saham yang beredar di pasaran misalnya, dan direksi memutuskan untuk menerbitkan 1000 saham baru melalui penawaran sekunder, maka kemudian akan ada 2000 saham beredar. Para pemilik saham yang menguasai 1000 saham lama akan mendapat faktor dilusi sebesar 50%. Pemilik saham lama yang memegang 100 lembar saham sekarang tidak lagi memiliki 10% perusahaan tetapi hanya 5% saja.

Dilusi tidak serta-merta berarti nilai rupiah dari investasi para pemegang saham lama berkurang. Tetapi karena prosentase atas kepemilikan sahamnya berkurang, kekuasaan mereka atas perusahaan juga berkurang. Pengaruh mereka pada pengambilan keputusan perusahaan juga berkurang.

Hal lain yang tidak kalah penting san juga turut terpengaruh adalah prosentase haknya atas pendapatan perusahaan.

Meskipun rencana penawaran sekunder biasanya tidak disukai para pemilik saham karena akan menyebabkan dilusi, aksi ini menyuntikkan dana segar ke dalam kas perusahaan yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti restrukturisasi, membayar utang, atau investasi pada riset dan pengembangan misalnya.

Pada akhirnya mobilisasi modal melalui penawaran sekunder ini dalam jangka panjang juga bisa menguntungkan bagi para pemilik saham. Jika dana yang terkumpul kemudian dapat membuat perusahaan menghasilkan lebih banyak keuntungan sehingga harga sahamnya meningkat.

Pengambilan Opsi

Saat dilaksanakan, beberapa instrumen derivatif ditukar dengan saham baru yang diterbitkan perusahaan untuk diberikan kepada para karyawannya. Opsi saham untuk karyawan ini sering ditawarkan perusahaan kepada karyawannya sebagai bonus atau insentif. Saat kesepakatan opsi saham itu dilaksanakan, opsi yang dipegang karyawan ditukar dengan saham sehingga menambah jumlah saham beredar dan secara otomatis mengakibatkan dilusi.

Opsi saham bagi karyawan merupakan penyebab dilusi saham via instrumen derivatif yang paling sering terjadi. Tetapi instrumen lain juga berpotensi menimbulkan efek yang sama.

Utang dan Ekuitas yang Dapat Dikonversikan

Saat perusahaan menerbitkan surat utang yang dapat dikonversikan, para pemegang surat utang dapat memilih untuk mengkonversi utang menjadi saham alih-alih dibayar secara tunai. Jika dilaksakan, jelas akan menimbulkan dilusi.

Umumnya surat utang yang dapat dikonversi ini ditukarnya dengan saham biasa, bukan saham preferen. Perhitungan konversi ditetapkan dengan rasio konversi pada saat surat utang tersebut diterbitkan. Misalnya untuk setiap 100 juta rupiah ditukar dengan 50 lembar saham biasa.

Karena saham yang dipertukarkan merupakan saham baru, proses ini jelas menimbulkan dilusi terhadap para pemilik saham lama.

Ekuitas yang dapat dikonversikan biasa juga disebut sebagai saham preferen yang dapat dikonversikan, biasanya ditukar dengan saham biasa dalam rasio preferensi tertentu, misalnya setiwp 1 lembar saham preferen ditukar dengan 10 lembar saham biasa. Efeknya jelas. Pasti menimbulkan dilusi pada kepemilikan para pemilik saham lama.

Efek terhadap para pemilik saham lama yang memegang saham biasa sebelum terjadinya dilusi hampir sama dengan efek penawaran sekunder. Posentase kepemilikan perusahaan menurun saat saham baru diterbitkan.